Bismillahirrahmanirrahiim…
Aku salah satu manusia dari sekian banyak manusia yang tak bisa mengekspresikan kegembiraan di depan orang yang menyayangi. Selalu saja begitu, seperti hari ini. Ibuku datang jauh-jauh dari kampung karena mendengarku sakit di kampung orang. Aku sakit selama 6 hari yang mana memang sangat butuh bantuan dari seorang Ibu. Aku yang saat ini ada di rumah nenek malu karena segala keperluanku dari makan hingga urusan ke belakang selalu dibantu oleh om, tante, atau nenek. Mereka bukan om, tante, dan nenek kandung. Nenek adalah saudara Almarhum kakekku, jadinya om dan tante adalah saudara sepupu sekali Ibuku. Walau begitu, mereka tetap perhatian sama aku. Aku tak dibanding-bandingkan, aku sudah dianggap bagian terpenting dalam hidup mereka. Aku adalah anak mereka, jika aku kenapa-kenapa mereka turut bertanggung jawab terhadapku. Nenek tau, dia tidak bisa mengatasiku tanpa bantuan Ibu. Karenanya Ibuku tetap disuruh datang ke sini, merawatku.
Pukul 04.00 Hujan kembali mengguyur Bumi tempat tinggal kami. Hujan memang tak pernah berhenti sejak turun sejak kemarin pagi hingga penguhujung malam. Tak lama setelah itu hapeku ikut bergetar, terpampang tulisan “LoveLy”. LoveLy di hapeku sudah sejak lama. Sejak nomor yang Ibu pake sekarang masih dipegang sama Bapak amarhum. Hingga ketika adik pertamaku sudah punya hape juga, akupun menamainya LoveLy 1. Tahun-tahun berikutnya adik keduaku juga udah dibelikan hape, dan aku menamainya Lovely 2. Tahun 2012 kemarin, adik ketigaku juga sudah diamanahkan pegang hape, jadinya aku menamai lovely 3. Adik-adikku juga turut menamai anggota keluarga dengan lovely.
Ibu berbicara di ujung sana. “Nak, bangunkan Nenekmu. Saya sudah sampai”. Nenek tidak mungkin yang menjemput jadinya berteriak membangunkan Om Awal. Jadinya Om Awal yang aku repotkan lagi. Beberapa kali Ibu menelpon, mungkin karena sudah kebasahan di ujung gang. “Emang Om Awal belum sampai ya?”. Belum juga aku selesai ngomong, ibu bilang, oh ya ini udah sampai.
Aku masih memilih untuk melanjutkan tidur dan menarik sarung hingga menutupi kepalaku. Aku ingin menjemput ibu, tapi aku masih mau malas-malasan. Aku sebenarnya udah baikan. Kemarin aku sudah bisa duduk lama di depan laptop menulis blog dan online. Namun entah kenapa saat Adik bungsuku telpon jam 03 tadi, aku ikut bangkit dari ranjang karena tiba-tiba kebelet pipis. Saat itu, rasanya sakit itu datang lagi, dan seakan memaksaku untuk naik ke atas ranjang dan mengambil posisi nyaman.
Aku bingung ketika suara Ibuku sudah menggema di ruangan bawah. Aku masih ngantuk, dan masih malas ketemu Ibu. Sebenarnya aku protes dalam hati, untuk apa Ibu datang. Toh aku sudah sehat. Aku sudah bisa cuci baju sendiri. Aku tak perlu lagi dirawat. Tapi protes itu aku tak tunjukkan, di hatikupun aku sebenarnya takut untuk menyimpannya. Hanya protes sesaat. Aku khawatir jika protes ini berlebihan, nanti dibilang tidak bersyukur. Aku pengen menyibakkan kelambu lagi ketika nuraniku mengajak dengan lembut untuk turun. Aku tanpa paksaan, tanpa ada pertimbangan, tanpa berfikir ini itu aku menuruti nuraniku.
Ibu sedang menyeduh air panas ketika aku duduk di ruang tamu. Nenek yang duduk bersamaku tetap asyik ngobrol dengan Ibu yang ada di dapur. Maklumlah, rumah nenekku tak bersekat batu merah, ruang tamu dengan dapurpun bersebelahan. Hingga walau suara agak pelan tetap terdengar. Ibu muncul di pintu pembatas itu dan aku langsung berdiri meraih tangannya. Mencium punggung tangannya dengan takzim. Ibu memilih mengambil posisi di dekatku. Meneguk air minumnya yang ternyata Cuma air dingin bercampur air panas dari dalam termos. Aku mengira tadi beliau menyeduh teh panas atau kopi panas atau kedele panas. Selesai meneguk air minumnya, beliau mengusap-usap badanku. Entah apa yang difikirkan beliau ketika melihatku. Mungkin beliau sedih melihatku agak kurusan. Tapi aku malah menggeliat. Padahal sejujurnya aku rindu dengan belaian itu. Tapi itulah aku, aku tak bisa menunjukkan kebahagiaanku di depan orang yang menyayangiku.
Subuh mungkin masih ada sekitar 15-an menit. Om dan Ibuku memutuskan melaksanakan sunnah tahajjud. Entah Nenekku kemana, sejak tadi sudah mengakhiri obrolan dengan Ibuku. Mungkin udah masuk kelambu Omku. Maklumlah, banyak nyamuk. Kelambu lebih efektiv dibanding obat nyamuk, semprot nyamuk, dan pembasmi nyamuk lainnya. Aku naik lagi ke atas ranjang dan menyibak kelambu lalu membetulkan ujungnya agar tiada celah untuk nyamuk masuk. Kembali mengambil posisi enak untuk melanjutkan tidur. Dentuman hujan yang semakin deras di atas seng rumah, menambah nyenyak tidurku.
Aku menggeliat kembali. Aku merasakan belaian ibu dari arah kepala hingga kakiku. Aku menggeliat lagi ketika tangan ibu memeluk pinggangku yang saat itu aku memunggunginya. Aku menggeliat terus hingga ibu menyadari bahwa aku tak suka disentuh. Aku bingung, aku kenapa. Nuraniku menolak diberi perhatian begitu. Padahal aku mendengar sendiri doa-doa mengucur dari mulutnya, doa yang tulus untukku. Doa untuk kebaikanku, doa untuk kesembuhanku. Tapi aku tetap menggeliat, dan menggeliat.
Aku melanjutkan tidur nyenyakku ketika sudah tak ada tangan di tubuhku. Aku sedang haidh, jadi merasa tenang saja untuk melanjutkan tidur. Aku sama sekali tak mencari hapeku hanya sekedar untuk melirik sudah jam berapa saat itu. Namun rasanya belum semenit aku tidur, kembali tangan ibuku mengusap-usap belakangku. Aku menggeliat lagi. Menggeliat lagi. Dan akhirnya membiarkannya. Mencoba ikhlas dengan belaian itu. Aku diam, dan ibuku semakin membelai punggungku. Ada doa lagi saat itu. Air mataku akhirnya menetes. Meleleh hingga membasahi bantalku. Aku tetap diam dengan posisi membelakangi ibuku. Mungkin saja ibuku mengira aku masih nyenyak dalam tidurku hingga ia berhenti membelai belakangku dan berkata, “Nak, bangun. Bangun makan, dan minum obat nak. Sudah jam 7. Bangun nak, bangun”.
Ibu, perhatianmu…. Kasih sayangmu…. Tak mampu kuekspresikan kebahagian dan kesyukuranku selain lewat kata-kata…. Walau begitu, aku yakin engkau tahu bahwa aku begitu menyayangimu lebih dari apapun.
Love U MOM. Love U MOM. Love U. Love U so Much. Love U forever.
ketika lantunan tilawah mengawali sore
menggema di langit Rappocini
Read Users' Comments (0)







