Aku dan duniaku...
Telah lama berpisah.
Perpisahan yang mengadakan jarak yang panjang antara aku dan dia...duniaku.
Aku tak bisa mengingat dengan sempurna... bagaimana perpisahan itu terjadi.
Aku yang menjauh atau dia yang menjauh.
Sungguh...perpisahan ini telah lama terjadi.
Aku dan duniaku..
Dulu adalah satu kesatuan.
Aku selalu ada untuknya dan dia selalu ada untukku.
Aku di mana dan ke mana... dia selalu menemaniku.
Aku belahan jiwanya dan dia belahan jiwaku.
Arghh....
Akhirnya aku rindu juga padanya.
Aku dan duniaku...
Jika Pagi datang... dia menyambutku.
Walau dia diam namun aku memahaminya.
Dia selalu penasaran akan mimpi-mimpiku.
Siang tiba... dia pun merengek. Dia butuh aku. Namun siangku selalu sibuk. Aku butuh istirahat setelah seharian mengeluarkan tenaga berfikir, bercerita, dan bercanda.
Ia memahami
Sore menjelang... dia diam. Malah aku yang merengek manja padanya. Ada banyak kisah yang ingin kubagi padanya. Kisah suka duka sedih bahagia yang kudapatkan di sekolah.
Namun soreku juga terlalu sibuk. Mama kerepotan di dapur butuh bantuanku.
Aku mengusapnya... dan mengangguk untukku.
Malam tiba...
Aku meliriknya. Ia memandangku.
Bukan saat yang tepat untuk saling bermanja-manja.
Pelajaran sekolah butuh untuk aku ulangi dan butuh disiapkan untuk besok.
Kami terdiam. Saling memahami.
Ngantuk akhirnya menyapa...
Aku dan duniaku.
Aku butuh dia.
Dia butuh aku.
Ngantuk biarlah tertahan.
Kami butuh bersua
Kami butuh bahagia
Karena sebenarnya aku dan dia,
Sungguh tak bisa dipisahkan
Kami menghabiskan separuh malam bersama. Ada tawa cekikan ketika kuceritakan kisah bahagiaku. Ada tangis tertahan saat kuungkapkan kisah sedihku. Suka duka sedih bahagia silih berganti kusedakkan padanya.
Ia diam. Namun kuyakin ia memahamiku.
Aku mencintainya. Pelukan erat kutimpakan padanya habisku bercerita. Cium sayang ku jejakkan padanya pasca kuberkisah. Bertubi-tubi karena kusangat mencitainya.
Aku dan duniaku...
Sungguh kami selalu bersama.
Walau tak saling berbagi.
Aku dan duniaku...
Dulu kami saling mencintai.
Aku sungguh tak tenang tanpanya.
Sungguh dia adalah kebahagiaanku.
Pelampiasan segala impian dan harapanku.
Namun kini..
Aku dan duniaku..
Tertera jurang luas antaraku dan dirinya.
Sangat luas.
Kapan lagi kami bersua...
Kapan lagi.
Aku merinduinya.
---
Aku Fauziah dan Diary sang duniaku. Dipisahkan oleh waktu dan kesempatan. Dipisahkan oleh teman dan media social. Dipisahkan oleh handphone juga laptop. Semenjak aku memasuki jenjang perkuliahan aku jarang lagi menemuinya. Hingga jurang pemisah itu menganga lebar.
Sebelumnya, aku selalu membawanya kesana kemari. Dia satu-satunya buku yang bertahan dari tahun ketahun yang tak pernah alpha terbawa ke sekolah dan ke manapun aku pergi. Jika ada kesempatan, aku menulisnya. Jika waktu sedikit aku hanya bisa membacanya.
Jika kejenuhan menerpaku, dia penyemangatku. Karena tak pernah aku meninggalkannya tanpa tertulis kalimat motivasi. Jika kesedihan melandaku, dia penghiburku. Karena kebahagiaan yang kutuangkan padanya ternyata jauh lebih banyak dari kesedihan. Hingga aku diingatkan untuk selalu bersyukur dan kembali tertawa. Jika kumerindu, dia obatku. Karena kisah yang sampaikan padanya membawaku ke memory lama yang tak lagi mampu terulang.
Aku telah selesai kuliah namun aku belum bisa menemuinya dulu. Sungguh, aku tak ada niat meninggalkannya. Aku akan kembali padanya suatu saat
---








0 Response to "Aku dan Duniaku"
Posting Komentar